Angin Harapan di Puncak Penuh Batu

Kudengar angin bersenandung dengan lirih, seolah menyampaikan rahasia semesta. Ia menyapu gemericik sungai yang mengalun pelan, menyisir lautan yang membiru dalam kedalaman, menyentuh layar kapal yang terombang-ambing, membelai pohon-pohon yang menari, dan menepuk daun-daun yang bergetar dalam harmoni. Burung-burung berceloteh di langit yang luas, sedangkan anak ayam memanggil ibunya dengan setia, mengiringi musik alam yang mengalun tanpa jeda, bersama hewan bertanduk yang turut menggemakan irama, semuanya berpadu dalam simfoni semesta. Angin dan cahaya matahari saling merangkul, berkelindan dalam selimut kehangatan, mencipta kesejukan yang tak ingin pergi, tak ingin hilang, karena ini tentang Angin.

Angin dinamakan Angin, karena ia lahir di tengah badai, tumbuh dari deru dan debu, belajar dari riuh dan sunyi, dan mengerti arti luka serta harapan. Ia diasuh di atas batu, ditidurkan di atas kayu, merangkak bersama debu, dan berlari di antara ilalang, ia berasal dari desa yang sangat terpencil, sebuah desa yang terlalu jauh dari kota, namun terlalu dekat dengan luka.

Angin tumbuh ditempa kerasnya kehidupan, memikul kayu bersama ayahnya, mendengar keluhan yang menggema di tanah mereka, diabaikan pemerintahnya, dana desa yang lenyap tanpa jejak, jalan yang hancur dimakan waktu, dan kemarau panjang yang menahan hujan, hingga anak-anak yang hanya mengenal rasa lapar.

"Angin, hari ini kita hanya makan singkong. Maaf ya, Nak." Suara ayahnya lirih, bagai angin yang kehilangan nyanyinya. Angin tersenyum, menenangkan duka yang hendak menyapa, "Iya, Yah. Orang dulu juga tidak selalu makan nasi."

Di sudut dapur yang dingin, Angin menyimpan beras untuk si kecil Salsabila, sebagai pengobat perut yang tak cukup ditenangkan oleh sekadar kata-kata.

Setibanya di rumah, Angin meletakkan kayu, menyeduhkan kopi pahit untuk ayahnya, seakan menyatu dengan dinginnya senja, lalu mandi, membiarkan air membawa pergi lelah yang terpatri.

Semua terasa biasa, hingga tiba-tiba ia menyadari:

"Ibu dan Adek mana?"

Ia mencari ke halaman belakang, keheningan menyambut, atau mungkin mereka berteduh di bawah pohon mangga, namun tempat itu terlihat  hampa.

Dengan langkah tergesa, ia melangkah menuju rumah Saodah, tetangganya.

"Ibumu tadi saya temuin pingsan, Angin. Sudah dibawa ke rumah sakit oleh pamanmu."

Dunia seakan berhenti, seumpama detik lupa berdetak.

Tanpa ragu, ia mencari ayahnya. Bersama, mereka melaju dengan motor tua yang bersuara serak, menembus jalan berdebu, menempuh lima belas kilometer yang terasa seperti seumur hidup. Di punggungnya, Angin menyandang dokumen-dokumen penting, simbol harapan di tengah segala derita.

Sementara itu, di balik kehidupan yang tersulam sunyi, ada Angkasa, yang memikul beban dalam diam. Ia menatap Bulan yang terbaring lemah, istinya semakin pudar bagai malam tanpa cahaya. Sepulang dari sawah, Angkasa duduk di sampingnya, saling bertukar tatapan tanpa kata, karena terkadang cinta hanya perlu diungkapkan lewat diam.

Betuah sekali Angkasa memiliki Bulan, yang tak pernah mengeluh, yang sabar menghadapi kerasnya kehidupan, atau seperti yang diucap orang-orang, terperangkap dalam "Lendang Kepanasan."

Di sekolah, Azim, sang guru, pernah duduk bersama Angin di bawah rindangnya pohon bidara. Matanya menatap jauh ke cakrawala, lalu berkata dengan suara yang menenangkan:

"Angin, setamatmu dari sini, pergilah. Tapi jangan lupakan tempat ini. Kamu harus membawa perubahan."

Angin mengangguk, matanya yang tajam bersinar sepadan dengan harapan yang membara di dalam dada, lalu berbisik:

"Angin akan berusaha."

Setelah segala derita itu, Angin akhirnya mengembara, menuntut ilmu di sekolah-sekolah yang mendunia, bukan sekadar untuk mengubah desanya, tetapi untuk mengubah Indonesia.

Tak ada yang tahu kapan Angin akan kembali, tak ada yang tahu apakah ia akan berhasil. Namun satu hal tetap pasti, jika bukan Angin yang kembali, maka sepoi-sepoinya akan datang, membawa wangi kasturi yang tak tertandingi.

Kutulis ini setelah mendengar suara angin, meski aku tak tahu ungkapan ini disebut apa dalam bahasa Indonesia. Yang kutahu, angin yang menderu hari itu membisikkan sesuatu padaku:

"Tunggu aku," kata angin, saat aku pun melangkah pergi.


Dokumentasi-dokumentasi ketika di Puncak Jeringo (asal inspirasi Penulisan)

Ketika masih cerah

Foto ladang dan seorang Petani (Ayah)

Rerumputan

Hujan dan berteduh di balai balai

Ketika akan pulang


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url