Kata Sang Pujangga


Tulis, coret. Tulis, coret.

Tangannya terus bergerak, tetapi pikirannya buntu. Kata-kata mengalir, lalu mengering sebelum sempat bermakna. Kertas-kertas yang berserakan di meja menjadi saksi bisu dari kebingungannya. Ia menatap lembaran kosong di depannya, merasa seolah-olah sedang berdiri di tepi jurang, ragu apakah harus melangkah maju atau berbalik.

Di luar jendela, senja mulai turun perlahan. Cahaya jingga merayap di sela-sela dedaunan, mewarnai tembok kamarnya yang penuh dengan catatan dan puisi-puisi lama. Beberapa judul tersusun rapi di rak buku—karya-karyanya yang dulu begitu ia banggakan. Tapi sekarang, tangannya gemetar saat mencoba menulis sesuatu yang baru.

Ia mendesah, lalu meremas kertasnya dan melemparkannya ke lantai.

Saat itu, ketukan terdengar dari balik pintu. Tak lama, seorang lelaki berdiri di ambang pintu. Wajahnya tenang, matanya penuh kebijaksanaan. Ia dikenal sebagai sang pujangga, dia adalah seseorang yang telah lama memahami bahasa kata dan jiwa.

"Kau masih bertarung dengan kertas kosong?" tanyanya sambil melangkah mendekat.

Ia mengangguk lemas. "Entah kenapa, aku merasa kosong. Aku menulis, lalu mencoret. Rasanya tidak ada yang cukup baik."

Sang pujangga duduk di kursi di hadapannya, menatap kertas-kertas yang berserakan. "Mungkin masalahnya bukan pada tulisanmu, tetapi pada caramu melihatnya. Kau ingin menemukan kesempurnaan, padahal menulis bukan tentang itu. Menulis adalah perjalanan, bukan tujuan."

Ia diam, menatap pena di tangannya. "Tapi jika yang kutulis tidak memiliki makna, bukankah itu sia-sia?"

Sang pujangga tersenyum tipis, lalu mengambil salah satu kertas yang diremasnya, membuka lipatan itu perlahan. "Tidak ada tulisan yang sia-sia. Bahkan coretan yang kau anggap tak berarti adalah langkah kecil menuju pemahaman yang lebih dalam. Kata-kata tidak selalu harus sempurna untuk bisa bermakna."

Ia menarik napas panjang. Kata-kata itu benar, tapi mengapa masih ada keraguan dalam hatinya?

Sang pujangga melanjutkan, "Kau terlalu sering melihat ke luar, mencari validasi dari dunia. Padahal, tulisan terbaik lahir dari keberanian untuk melihat ke dalam. Biarkan dirimu menulis dengan jujur, tanpa takut salah. Kata-kata yang paling indah adalah yang datang dari hati yang tulus."

Ia terdiam, lalu menatap kertas kosong di depannya. Kali ini, ia tidak merasa terbebani. Ia menyesap tehnya perlahan, merasakan kehangatannya, lalu tersenyum tipis.

"Kau benar. Aku hanya perlu menulis."

Sang pujangga mengangguk. "Dan aku akan tetap di sini, menemanimu. Karena setiap penulis, sejatinya, hanyalah seorang pengelana yang butuh teman dalam perjalanan."

Dengan sisa cahaya senja yang meredup di balik jendela, ia kembali menulis. Kali ini, ia tidak peduli berapa kali harus mencoret. Yang penting, ia terus melanjutkan. Sebab, menulis bukan hanya soal hasil, tetapi tentang perjalanan memahami dirinya sendiri.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url